Halaman Utama

  • Sumatra
  • Java
  • Bali
  • Sulawesi
  • Flores
  • Papua

Learn more about roasting and retailing

 

Pada tahun 1696, Belanda membawa kopi ke Batavia di pulau Jawa (Java). Tidak lama kemudian, Batavia menjadi pemasok utama kopi bagi Eropa. Selama lebih dari 312 tahun, kata-kata Java dan Sumatra berkembang memiliki makna lain yang menunjukkan kopi beraroma. Para pecinta kopi spesial juga mengenal nama-nama seperti Bali, Lintong, Toraja, Kalosi, Gayo dan Mandheling. Selain dari wilayah-wilayah yang lebih dikenal tersebut, kopi dari berbagai tempat asal baru, seperti Wamena dan Moanemani di Papua, menunggu untuk dikembangkan.

Pada tahun 2007, sejumlah petani, pengolah, eksportir, pemanggang dan pengecer memutuskan untuk membentuk the Specialty Coffee Association of Indonesia (SCAI), untuk memajukan dan meningkatkan kualitas kopi Arabika yang ditanam di Indonesia.

Keanggotaan SCAI terbuka untuk semua orang atau organisasi yang menangani kopi Arabika asal Indonesia. Termasuk didalamnya petani perorangan, kelompok tani, pembeli, pemanggang, eksportir, pengecer dan siapun yang bertujuan sama.

Semboyan dari asosiasi ini adalah “Keunggulan dalam Keragaman”. Semboyan tersebut mencerminkan keragaman aroma kopi Indonesia, dan juga keragaman petani yang menanamnya, serta lingkungan dimana kopi tersebut ditanam. Setiap ekosistem dan tanah Indonesia menghasilkan kopi dengan ciri-ciri profil cupping yang khas, yang hanya didapatkan di wilayah dimana kopi tersebut ditanam.

Sebagian besar dari kopi Arabika Indonesia ditanam dan diolah oleh petani-petani berskala kecil. Teknik-teknik pengolahan tradisional yang mereka gunakan memberikan kekhususan tersendiri yang tidak didapatkan di kopi-kopi spesial lainnya.